Modul Asesmen Diagnosis

Modul diagnostik atau diagnosis merupakan modul yang disusun oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbud untuk memberikan inspirasi, wawasan, dan pedoman bagi guru dalam melakukan persiapan, pelaksanaan, diagnosis dan tindaklanjut yang tepat pada proses asesmen diagnosis.

Harapan Pusasjar keberadaan modul tersebut menjadi salah satu penguatan terhadap prinsip “teaching at the right level”, khususnya pada masa pandemi.

Asesmen Diagnostik

Istilah asesmen diagnostik menjadi hal baru di kalangan guru. Terutama setelah ada pandemi Covid-19 yang menyebabkan siswa harus belajar dari rumah. (tersedia juga modul BDR bagi PAUD >>)

Apa itu asesmen diagnostik?

Asesmen diagnostik adalah penilaian yang dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan kondisi awal peserta didik (kognitif & non-kognitif).

Dengan asesmen tersebut, guru bisa merancang pembelajaran yang sesuai dan personal.

Perlu diingat, asesmen diagnostik bukan untuk memberi nilai rapor, melainkan sebagai dasar intervensi yang tepat.

Hasil asesmen awal membantu guru menyesuaikan materi dan metode mengajar agar efektif bagi setiap siswa, membedakannya dengan tes biasa seperti ulangan formatif.


Kenapa harus ada asesmen diagnostik?

Sebenarnya, asesmen diagnostik merupakan kegiatan rutin guru sebelum melaksanakan pembelajaran agar rencana pembelajaran sesuai dengan kondisi murid.

Asesmen ini sangat penting sebagai asesmen awal setelah dunia mendapatkan ujian dengan pandemi Covid-19. Dimana siswa harus belajar di rumah.

Kebijakan BDR memberi dampak pada perkembangan kognitif dan non-kognitif siswa.

Beragam kondisi sosial ekonomi, akses teknologi, serta kondisi wilayah sebaran Covid-19 di seluruh Indonesia menyebabkan pelaksanaan BDR serta capaian belajar siswa bervariasi.

Oleh karena itu, perlu asesmen untuk mengetahui hambatan dan kelemahan siswa pada saat BDR .

Secara umum tujuan utama asesmen awal:

  • Mengidentifikasi Kemampuan Awal, baik pengetahuan, keterampilan dasar, minat, motivasi, maupun karakter siswa.
  • Menyesuaikan Pembelajaran seperti merancang strategi pembelajaran yang personal (remedial untuk yang kurang, pengayaan untuk yang lebih).
  • Memahami kondisi emosional dan lingkungan belajar siswa sebelum mulai belajar.

Bagaimana cara menerapkan asesmen awal?

Jenis-Jenis Asesmen Diagnostik:

  • Kognitif: Mengukur kemampuan dasar siswa terhadap topik tertentu (misalnya, prasyarat materi).
  • Non-Kognitif: Mengukur kondisi emosi, minat, motivasi, dan karakter siswa.

Guru memberikan pre-test (asesmen kognitif) untuk melihat pemahaman siswa tentang topik, atau meminta siswa menggambar/bercerita tentang perasaan mereka saat belajar (asesmen non-kognitif).


Modul apa saja yang tersedia di Bukuyunandra?

Bukuyunandra mendapatkan modul-modul asesmen awal semua jenjang di mata pelajaran  yang diterbitkan oleh Pusasjar yaitu

1. Modul Bahasa Indonesia

Pusasjar Balibangbuk menyusun 4 modul asesmen awal untuk 4 kelas yaitu

  • 1. Modul Asesmen Awal kelas III
  • 2. Modul Asesmen Awal kelas IV
  • 3. Modul Asesmen Awal kelas VII
  • 4. Modul Asesmen Awal kelas X

2. Modul Matematika

  • 1. Modul Asesmen Awal kelas III
  • 2. Modul Asesmen Awal kelas IV
  • 3. Modul Asesmen Awal kelas VII
  • 4. Modul Asesmen Awal kelas X

Delapan modul asesmen awal tersebut berisi kisi-kisi soal yang dapat membantu guru menerapkan di satuan pendidikannya.

Kisi-kisi awal pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar di mata pelajaran bahasa Indonesia dan Matematika.

Kedua mata pelajaran tersebut menjadi induk penguasaan kompetensi literasi dan numerasi siswa. Tapi bukan satu-satunya mata pelajaran yang melatih literasi dan numerasi.

  • Literasi adalah kemampuan memahami informasi melalui membaca, menulis, berbicara, dan melihat, yang berkembang dari sekadar melek huruf menjadi kemampuan kontekstual dalam memecahkan masalah.
  • Numerasi (atau literasi matematika) adalah kecakapan menggunakan angka, simbol, dan konsep matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari

Kompetensi literasi dan numerasi bisa berguna di kehidupan

Kompetensi literasi dan numerasi siswa Indonesia masih rendah menurut penilaian hasil PISA.  Maka Indonesia masih memiliki PR besar bagaimana cara meningkatkan kedua kompetensi tersebut.

Scroll to Top